HARLAH BUNG KARNO - Guruh Luruskan Istilah "Jas Merah" dan "Sukarno-Hatta"
  • Thu, 06/06/2013 - 22:46

JAKARTA, 6/6 (SOLUSInews): Salah satu putra Bung Karno, Guruh Sukarnoputra meluruskan beberapa hal terkait ayahnya yang merupakan tokoh proklamator, Sukarno. Sebab, ini dinilai penting bagi pemahaman sejarah bangsa Indonesia. Salah satunya soal akronim "jas merah."

Ditemui pada peringatan 112 tahun kelahiran Sukarno di Jakarta, Kamis (6/6), Guruh mengungkapkan. "jas merah" selama ini diartikan sebagai, "jangan sekali-kali melupakan sejarah." Padahal, menurutnya, kepanjangan itu kurang tepat.

"Istilah itu diambil dari judul pidato terakhir Bung Karno pada 1966. Kepanjangannya [yang benar], "jangan sekali-kali meninggalkan sejarah"," tegas Guruh.

Selanjutnya, dia mengkritik istilah orde baru (Orba) dan orde lama (Orla). Guruh melanjutkan istilah Orla merupakan kata-kata penghinaan terhadap Bapak Bangsa RI.

"Jadi kalau Anda mendongeng kepada anak cucu, sampaikan saja pada 1967 berdiri pemerintahan Orba. Ceritakan itu adalah pemerintahan hasil kudeta yang merata," ujar Guruh.

Penyebutan Orba dan Orla, menurutnya, adalah bukti keberhasilan pemerintahan Soeharto. "Orde itu adalah yang menggulingan Pemerintahan Soekarno. Dan pemerintahan Orba adalah kudeta yang merata," tegasnya lagi, sebagaimana diberitakan 'vivanews' dan terpantau SOLUSInews.

Hal ketiga yang menjadi sorotannya, ialah, soal penyebutan Sukarno bersanding dengan M Hatta. Upaya penyandingan kedua nama itu, menurut Guntur, bentuk keberhasilan politik pemerintahan Soeharto. "Jadi seakan-akan Sukarno tidak ada kekuatan bila tidak ada Hatta dan sebaliknya," katanya.

Ironisnya, saat ia mendengar jawaban anak SD, Presiden RI pertama ialah Sukarno-Hatta. "Jadi ini dibuat agar seperti Sukarno bin Hatta," tuturnya.

Peringatan hari lahir Bung Karno itu dihadiri Guruh Sukarnoputra, Guntur Sukarnoputra, Sukmawati Sukarnoputri, ajudan Sukarno serta mantan Menteri Koperasi dan Transmigrasi era Sukarno.

(jr-vnc/S)

Categories: 

Berita Terkait